Enembe Minta Semua Pasukan Ditarik dari Puncak Jaya
JAYAPURA-Munculnya kembali kasus penembakan dan penyerangan terhadap warga sipil di wilayah Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua yang diduga dilakukan oleh kelompok TPN/OPM dan mengakibatkan seorang warga sipil bernama Thamrin (45) meninggal dunia, rupanya membuat gerah orang nomor satu di Kabupaten Puncak Jaya.
Pihaknya selaku pemerintah sangat menyayangkan peristiwa tersebut, karena yang menjadi korban adalah seorang pekerja yang tidak mengetahui apa-apa, bahkan hanya mencari nafkah kemudian berniat membantu proses pembangunan di Kabupaten Puncak Jaya. "Ya, pada dasarnya saya sangat menyesalkan adanya peristiwa ini, sebab yang menjadi korban adalah seorang pekerja yang tidak tahu apa-apa, tapi kemudian ditembak oleh orang tidak dikenal. Ini membuktikan bahwa sudah tidak ada lagi jaminan keamanan di Kabupaten Puncak Jaya, sehingga semua pasukan keamanan yang berada di Kabupaten Puncak Jaya supaya ditarik dan meninggalkan Puncak Jaya,"tegasnya saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, tadi malam. Enembe mengungkapkan, dalam kasus ini sebaiknya tidak perlu langsung menuduh pelaku penembakan itu dari kelompok TPN/OPM yang selama ini ada di Puncak Jaya, sebab belum ada keterangan resmi dari pihak keamanan terutama dari kepolisian. "Setelah dilakukan olah TKP (tempat kejadian perkara) mungkin kita baru bisa mengetahuinya," ujarnya. Pihaknya menilai ada orang atau oknum tertentu yang ingin mengganggu stabilitas dan pembangunan yang dilakukan di Kabupaten Puncak Jaya sehingga setiap pemerintah ingin melakukan pembangunan maka selalu ada hambatan yang luar biasa. "Jadi kira-kira kita mau pergi kemana meminta jaminan keamanan untuk membangun daerah Puncak Jaya dan itu menjadi pertanyaan besar tentang legalitas dan wewenang pengamanan daerah Puncak Jaya. Apakah TNI atau Polri, karena setiap kita membangun selalu ada hambatan yang sangat luar biasa," tandasnya. Lebih jauh Enembe mengatakan, pemerintah dan rakyat Puncak Jaya sudah mengalami kesulitan tapi masih saja ada orang yang ingin menjatuhkan stabilitas pemerintah. "Kami sudah merasa jenuh dan bosan dengan skenario yang buruk dari oknum tertentu yang dilakukan selama ini. Untuk itu, kami berencana meminta supaya semua pasukan baik TNI maupun Polri yang bertugas di Kabupaten Puncak Jaya supaya ditarik, karena sudah tidak ada jaminan keamanan sehingga percuma saja bertugas di daerah tapi tidak bisa memberikan keselamatan," paparnya. "Yang pemerintah harapkan sudah jelas, yaitu kita menginginkan kedamaian, sehingga semua pembangunan bisa berjalan dan rakyat tertolong dari semua kesusahan. Semua petugas kemanan baik TNI/Polri harus bertanggungjawab untuk menjaga keamanan, bukan menciptakan suatu masalah," tandasnya lagi. "Kami masih melakukan pengejaran terhadap pelaku penyerangan tersebut," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Kombes Pol Drs Agus Rianto ketika dikonfirmasi Cenderawasih Pos di Mapolda Papua, Rabu (21/10) kemarin. Usai penyerangan terhadap para pekerja proyek pembangunan jembatan Kali Kalome itu, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) Jenazah korban tiba di Bandara Sentani sekitar pukul 13.00 WIT menggunakan pesawat Susi Air dari Mulia, Puncak Jaya. Setelah tiba di Bandara Sentani, jasad korban langsung dimasukkan ke mobil jenazah. Selanjutnya, jasad korban dibawa ke kantor kesehatan pelabuhan udara di Kompleks Bandara Sentani untuk menunggu pesawat yang akan membawanya ke Pati via Surabaya. "Pokoknya saat terdengar suara tembakan, semua pekerja langsung lari mengamankan diri ke arah Pos Satgas 756/WMS yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari lokasi pembangunan jembatan. Tapi, saat itu saya sempat mendengar korban berteriak suara aduh," tuturnya kepada Cenderawasih Pos, kemarin. Kusiyanto menambahkan, selain adik iparnya yang terkena tembakan, ada dua lagi pekerja juga terkena luka tembakan, namun hanya mengenai telinga dan tangan. Kedua pekerja tersebut, saat ini masih menjalani perawatan di RS Mulia. "Jadi saat kejadian, kita ada 10 orang, 5 orang pendatang dan 5 orang warga asli Mulia. 2 orang pekerja yang terkena tembakan ini semuanya merupakan warga Mulia. Saya tidak tahu, apakah pengerjaan jembatan itu berlanjut atau tidak," ujarnya yang mengaku masih shock atas kejadian yang muncul secara tiba-tiba tersebut.(nal/bat/mud/fud) (scorpions) | |


0 komentar:
Posting Komentar