Referendum Ulang Mutlak!
Prakarsa Koteka (3)
Bukan barang baru lagi untuk di bicarakan atau di wacanakan, bagaimana sepak terjang keterlibatan Imprialis AS dalam sejarah serangkain aksi teror dan intimidasi menjelang proses Referendum di Papua Barat 1969. Patut untuk dapat di akui oleh pemerintah neo kolonialis rezim NKRI (SBY-Boediono) atas kerja keras sebuah kelompok kajian di Washington DC. Yang telah menyimpulkan bahwa Pemerintahaan Imprialis AS dan Indonesia terlibat kuat dalam proses Referendum di Papua Barat 1969. Aksi Referendum di gelar untuk menentukan sikap rakyat Papua Barat untuk tetap memilih Merdeka dan Berdaulat penuh atau bergabung dengan neo kolonialis Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kesimpulan kelompok kajian itu merujuk pada dokumen rahasia yang telah di terbitkan Lembaga Arsip Keamanan Nasional Amerika Serikat.
Dalam arsisp itu tergambar dengan jelas bahwa para pejabat dalam Pemerintahan Presiden Richard Millhous Nixon telah melakukan aksi intervensi terselubung, teror dan kecurangan dalam pelaksanaan proses Referendum 48 Tahun silam di Papua Barat. Catatan rahasia itu juga telah menunjukan Menteri Luar Negeri Henry Kissinger yang kemudian menjabat sebagai Penasehat Keamanan Nasional telah menyarankan kepada Presiden Richard M. Nixon untuk menyatakan pemerintahaannya memahami alasan Milisi Merah-Putih dan Militer Indonesia untuk melakukan invansi dan menduduki wilayah Papua Barat 1963. Namun Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menyangkal, Pemerintah George Walker Bush tidak terlibat dalam penerbitan dokumen tersebut.
Direktur Arsip Keamanan Nasional, Thomas S. Blanton juga menyatakan, bahan-bahan itu sudah di terbitkan pada Tahun 1996 – 2009, Blanton juga menjelaskan pihaknya telah mengumpulkan sejumlah bahan tentang sepak terjang kebiadapan Milisi Merah-Putih dan Militer Indonesia sejak lebih dari satu dekade di Papua Barat, Dokumen-dokumen diplomatik yang di terbitkan menandai ulang Tahun ke 48 Referendum Papua Barat seperti dikutip Washingtong Post edisi Minggu. Di jelaskan selanjutnya, bahwa dokumen rahasia tersebut akan terus di kaji ulang dan di ajukan sepenuhnya ke Pemerintahan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk di manfahatkan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan dalam pelaksanaan proses Referendum Ulang di Papua Barat.
Skenario konspiratif terselubung yang diperankan imprialis Amerika Serikat menggurita di seantero pelosok tanah air Papua Barat, mulai dari strategi lunak sampai kepada pertumpahan darah. Indonesia sebagai boneka dijadikan mesin robot pembasmi yang bekerja siang dan malam untuk memenangkan pertarungan memaluhkan, sikap kooptasi cukup menggiring peledakan demokrasi yang berpihak kepada segilintir kepentingan kaum Separatis Asing di Papua Barat. Data statistik yang menunjukan perolehan suara dalam jejak penentuan nasib sendiri bangsa Papua Barat dalam proses Referendum 1969 mutlak menuntut Merdeka lepas dari cengkraman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Perjuangan bangsa Papua Barat selama 48 Tahun berjalan hanya menuntut pelaksanaan ulang proses Referendum yang adil, jujur dan demokratis, tuntutan referendum ulang merupakan bagian dari pada serangkaian aksi-aksi kerja diplomatik dan merupakan sikap politik rakyat Papua Barat yang lunak kepada dunia internasional dan rezim NKRI (SBY-Boediono) sebagai ajang kompromi politik untuk menolak perang dan kekerasan di Papua Barat. Serangkain dari aksi-aksi tuntutan referendum terhadap penguasa merupakan bagian dari pada opsi penawaran dalam menjawab proses penghapusan penjajahan dan korban pelanggaran HAM di Papua Barat menuju kemandirian politik yang demokratis dan berdaulat penuh seacara kolektif. (26/02/2010).

