Cari Blog Ini

Kamis, 23 Juli 2009

Upaya Bangunkan OPM

(Jayapura) Kekerasan yang terjadi sejak Sabtu lalu di Timika adalah upaya membangunkan Organisasi Papua Merdeka (OPM), padahal OPM sudah tidak tertarik pada tindakan seperti itu. Dari kasus tersebut, polanya bukan kebiasaan OPM.

"Jadi ada upaya membangunkan OPM, tapi mereka tidak akan bangun," kata peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk Papua Muridan S Widjojo saat dihubungi SP, Kamis (16/7) pagi.

Dikatakan, yang menuduh pelaku adalah OPM mungkin tidak akan berhasil sebagai sebuah kampanye mereka yang selalu mendalangi aksi kekerasan. Aksi penembakan ini tidak akan terungkap. Sebenarnya polisi sudah tahu, tapi butuh keberanian untuk mengatakan itu. Kejadian seperti ini akan terulang lagi.

"Untuk itu, polisi harus di-back up Presiden. Kapolri dan Panglima TNI harus duduk bersama membahas ini. Bila mereka tak berbicara masalah ini, siklus kekerasan akan terjadi terus di Timika dan Papua. Bila hanya Kapolda dan Kapolres, tidak ada keberanian," katanya.

Bila sekarang pihak Australia mendesak agar mengungkapkan siapa penembak warga negaranya, pasti orang-orang Papua yang akan menjadi korban. "Saya setuju, Australia mendesak agar pihak kita mengungkapkan siapa pembunuh warga mereka," ujarnya. Pihak Freeport Indonesia haru tegas dalam masalah keamanan, siapa yang harus bertanggung jawab di sana.

Wakil Ketua Komnas Ham Papua Mathias Murib menegaskan, polisi harus mengungkap motif pelaku penembakan. "Jika tidak, akan menambah keraguan masyarakat terhadap kinerja polisi," ujarnya.

Kalau polisi tidak bisa mengungkap, negara yang warganya menjadi korban akan terus menuntut pemerintah Indonesia mengungkapkan itu. Jika dari hasil polisi terbukti pihak OPM, mereka harus bertanggung jawab. "Saya kira terlalu cepat menuduh ini dari OPM. Ini lagu lama, karena setiap ada kasus kekerasan, tuduhan dialamatkan ke mereka," ujarnya.

Penembakan terjadi lagi di kawasan PT Freeport, tepatnya di Mile 54, Rabu (15/7) siang. Lima anggota Brimob menjadi korban penembakan orang tak dikenal. Bripka Abraham Ngamelubun terluka pada paha kanan, Bribda Sumaji luka tembak pada tangan kanan dan kiri, Bripda Suriyadi menderita patah pergelangan tangan kiri (akibat melompat), Bripka Jimy Reinhard tertembak pada kaki kanan, dan Briptu Sardis Rumaropen tertembak di kaki kiri.


Dirawat

Mereka sedang dirawat di Klinik Kuala Kencana. Hal ini dibenarkan Pelaksana Harian Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah (Polda) Papua AKBP Nurhabri saat dihubungi SP, Kamis (16/7) pagi. Polda memperketat keamanan di areal PT Freeport, khususnya kepada para karyawan yang hendak bekerja.

Pelaku penembakan di Mile 53-51 masih diselidiki. "Proyektil peluru buatan Pindad yang berhasil ditemukan di TKP sudah diperiksa tim Puslabfor Mabes Polri dan hasilnya belum diketahui," ujarnya.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid mengatakan, tidak becusnya pemerintah dalam mengurus Freeport menjadi akar kekerasan yang terjadi di sekitar Freeport, di mana konflik tersebut memakan korban yang tak sedikit jumlahnya.

"Kami berharap upaya DPR yang pernah ada sebelumnya dalam memeriksa polemik keberadaan Freeport dan penembakan, dipublikasikan kepada masyarakat dan dijadikan rekomendasi kepada pemerintah," ujarnya. [LOV/154]
Read More - Upaya Bangunkan OPM

Rabu, 22 Juli 2009

LAPORAN KRONOLOGIS PENANGKAPAN 9 WARGA SIPIL DAN PEMIKIRAN SOLUTIF PEGUNGKAPAN PENEMBAKAN DI MILE 58 TEMBAGAPURA TIMIKA

Oleh; Markus Haluk

Pasca penembakan oleh kelompok Orang Tidak Dikenal (OTK) di Mile 52 pada 11 Juli 2009 pukul 05.00 WIT, yang menimpa karyawan PT. Freeport Indonesia bekerja di Departement Expert Munical Construktion, berwarga Negara Australia, Mr. Drew Nicholas Grant (38), bersama Mr. Lucan Jhon Biggs (pengemudi) dan Maju Pandjaitan (rekan kerja Korban) pada saat kendaraan yang ditumpangi korban, mobil Toyota Land Cruiser dengan nomor Lambung 01-2578 bergerak dari Tembagapura menuju Timika. Pada tanggal 12-13 Juli 2009 terjadi penembakan terhadap anggota Brimob (Brigade Mobil) dalam BKO Amole 2. Kondisi di Tanah Amungsa, banyak mendapat perhatian dari berbagai pimpinan Lembaga Negara, LSM, Gereja baik tingkat Nasional maupun Internasional, dari lembaga nasional misalnya. Sesmenkopolhukam bersama pimpinan teratas (teras) dari kepolisian Republik Indonesia maupun dari Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) mewakili pemerintah pusat telah mengunjungi Tanah Amungsa Timika Papua Barat. Setelah mengunjungi beberapa waktu kemudian, 700 personil gabungan aparat keamanan (kepolisian RI maupun TNI ) organik dan non organik dikerahkan untuk melakukan operasi penyisiran di areal PT. Freeport Indonesia.

Operasi gabungan oleh aparat keamanan TNI dan POLRI melakukan penyisiran tidak pada lokasi areal PT. Freeport ataupun lokasi yang menjadi sasaran, namun operasi penyisiran dilakukan terhadap warga sipil di Kota Timika. Hal ini menyata dimana pada tanggal 20 Juli 2009, pukul 15.00, Waktu Papua, Operasi gabungan aparat keamanan melakukan penangkapan secara membabi buta terhadap 7 Warga warga sipil suku Amungme yang ada di tengah kota Timika. Mereka yang menjadi korban penangkapan semuanya warga sipil yang sedang melakukan aktifitas hidupnya di Kota Timika. Mereka yang ditangkap sebagai berikut:

No.

Nama-nama

Usia

Asal Suku

Keterangan

01.

Piter Beanal

70 thn

Amungme

Kepala Suku

02.

Janes Uanman

68 thn

Amungme

Tokoh Masyarakat

03.

Tomi Beanal

20 thn

Amunme

Pmuda

04.

Eltinus Beanal

19 thn

Amungme

Pemuda

05.

Simon Jawame

38 thn

Amungme

Bapa Keluarga

06.

Domininggus Beanal

25 thn

Amungme

Pemuda

07.

Jaring beanal

16 thn

Amungme

Anak

08.

Samuel Toffly

29 thn

Key

Pemuda

09.

Petrus Kanisius Luther

40 thn

Tanimbar

Bapak rumah tangga

Sesuai keterangan saksi mata yang disamapikan ada kami bahwa Operasi penangkapan dilakukan di jalan-jalan di tempat umum dan di dalam rumah.

Disamping penangkapan dengan cara tidak manusiawi, gabungan aparat keamanan juga telah melakukan penggerebekan dan penghancuran rumah milik Demianus Beanal salah satu masyarakat yang juga karyawan PT. Freeport Indonesia yang beralamat Jln. Paulus Magal, RT. 04 Kwamki Baru. Penyiksaan berupa pemukulan dengan popor senjata, memukul, menendang serta beberapa bentuk penyiksaan lainnya telah dilakukan oleh aparat keamanan terhadap warga sipil.

Akibat penyisiran dan penangkapan warga sipil di Timika dari Operasi gabungan keamanan TNI dan Polri secara membabi buta tanpa Prosedural, maka masyarakat di Timika mengundang ketakutan dan rasa trauma muncul kembali pengalaman di masa silam akhirnya kebanyakan masyarakat sipil di Timika sekarang sedang mengungsi atau lari menyelamatkan diri di hutan-hutan.

Menyimak dan melihat kondisi ini kedepan terjadi penangkapan dan operasi penyisiran secara tidak manusiawi dan diluar prosedur hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dilakukan oleh Negara melalui aparat keamanan TNI dan Polri terhadap warga sipil yang tidak berdaya di tanah Amungsa Timika Papua Barat. Dengan pola pendekatan ini kami menilai, aparat keamanan tidak akan mengungkap secara propesional pelaku penembakan terhadap warga Australia dan beberapa korban lainnya. Namun sebaliknya, aparat keamanan melakukan pengalihan perhatian (Propaganda Opini Konflik) dengan menangkap, meneror, mengintimiadasih warga sipil yang tidak bersalah. Proses ini akan mengulangi kembali dengan penangkapan warga sipil Pdt. Isak Ondowame Cs, pada tahun 2005 terkait dengan peristiwa penembakan di Mile 62-63, Tembagapura Timika pada tahun 2002.

Oleh karena itu, guna menghindari pengalihan isu dan proses pengungkapan pelaku penembakan Mr. Drew Nicholas Grant (38) Cs, pada tanggal 11 July 2009 dan penangkapan secara sewenang-wenang terhadap warga sipil di tanah Amungsa Timika Papua Barat maka kami menyampaikan solusi yang mesti disikapi oleh berbagai pihak yang berkomponten secepatnya:

1. Amat diharapkan Pemerintah Australia untuk segera menurunkan Australia Federal Police (Polisi Federal Australia), guna melakukan investigasi mendalam atas meninggalnya Mr. Drew Nicholas Grant terlepas dari proses pengungkapan secara propesional Kepolisian Republik Indonesia

2. Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui POLDA Papua mesti mengungkap secara propesional pelaku penembakan Mr. Drew Nicholas Grant (38), CS bukan dengan cara menangkap warga sipil dan menghancurkan rumah mereka.

3. Polda Papua mesti membebaskan 9 warga sipil yang sementara di tahan di Polres Timika Kabupaten Timika, karena bila tidak maka bisa bedampak buruk untuk situasi keaamanan di tanah Amungsa Timika Papua.

4. Aparat keamanan mesti menghentikan akasi teror dan penangkapan sewenang-wenang terhadap warga Sipil yang ada di tanah Amungsa Timika Papua Barat.

5. KOMNAS HAM bersama lembaga sipil independen lainnya segera membentuk Tim Investigasih Independent guna mengungkap pelaku penembakan Mr. Drew Nicholas Grant (38), CS.

6. Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, berhenti mengirimkan pasukan di tanah Amungsa Timika dan mendesak untuk mengedepankan pendekatan dialogis, damai dan bermartabat dalam penanganan masalah penembakan di Mile 58 Tembagapura Timika.

7. Amat diharpakan suapaya rakyat di tanah Amungsa Timika secara khusus dan di seluruh tanah Papua untuk tetap tenang tidak terpovokasi guna menjaga tanah Papua sebagai tanah Damai.

Demikian laporan kronologis awal dan beberapa pikiran solutif ini dapat kami sampaikan. Atas perhatian dan kerja sama, kami menyampaikan terima kasih.

Jayapura, 21 July 2009


Aktivis HAM Papua Barat

Read More - LAPORAN KRONOLOGIS PENANGKAPAN 9 WARGA SIPIL DAN PEMIKIRAN SOLUTIF PEGUNGKAPAN PENEMBAKAN DI MILE 58 TEMBAGAPURA TIMIKA

Senin, 20 Juli 2009

230 Ribuh Orang Papua Buta Aksara

JAYAPURA (PAPOS) –Papua, masuk 10 besar provinsi di wilayah Indonesia Indonesia yang dinyatakan padat akan buta aksara selain Bali, Kalimantan Timur, Kalimatan Barat,Jawa Timur, Jawa Tengah, NNT, Banten, Selawesi Selatan, Jawa Barat.

Sementara kepadatan buta aksara di Papua ini terbesar berada di Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin), Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Asmat dan Kabupaten di pegunungan lainnya.

“Memang untuk pegunungan merupakan daerah terbesar penyandang buta aksara, hal ini disebabkan sulitnya transportasi ke daerah tersebut serta minimnya SDM untuk dimanfaatkan di sana,” ungkap Ka-Dispora Provinsi James Modouw kepada wartawan disela-sela cara penguatan kapasitas pengelola/penyelengara program pendidikan masyarakat pada 10 provinsi di Hotel Mahkota, Kamis (16/7) kemarin.

Menurutnya, dalam waktu dekat Pemprov Papua akan menggenjot agar buta aksara di Papua hilang atau paling minim berkurang dari jumlah 230.000 penyandang buta aksara yang terdapat di Papua saat ini.

“Melalui dukungan nggaran yang dihasilkan dari ABPD sebesar Rp. 6 M pertahunnya, upaya pemerintah itu nantinya akan dilakukan melalui pendirian taman bacaan, sosialisasi ke masyarakat serta berbagai pelatihan tentang upaya pemberantasan buta aksara,”katanya.

Dari jumlah 230.000 penyandang buta aksara di Papua jika dibandingkan dengan jumlah pada tahun pertama program pemberantasan buta aksara dilakukan yaitu pada tahun 2005 terjadi penurunan.

Tahun 2005 lalu Papua mencapai angka 552.000 penyandang buta aksara dan untuk tahun 2009 ini turun hingga 230.000, sehingga dipastikan tahun 2014 nanti Papua akan benar-benar bebas dari buta aksara.

“Sebenarnya pemda Papua sudah berhasil dalam memberantas buta aksara, kita bisa lihat dari penurunan penyandang buta aksara saat ini,” lanjut dia.

Pemberantasan buta aksara untuk daerah Papua ini dikatakan olehnya, nanti akan didukung pula melalui kearifan muatan local yaitu, diwajibkan setiap sekolah dasar untuk menggunakan bahasa ibu atau bahasa budaya setempat.

Dikatakan pula oleh James Modouw, masih besarnya penyandang buta aksara di kota Jayapura disebabkan mobilisasi penduduk yang terus meningkat hingga upaya pemda setempat untuk memberantas buta aksara terbilang sulit.(lina)

Read More - 230 Ribuh Orang Papua Buta Aksara

Abandon "Separatism conflict" paradigm for Justice towards the Papua People

We express our regrets towards the rising escalation of violence in Papua, especially happened in Keerom region, Nabire, Paniai, Wamena, Yapen District and a series of shoutout in Timika area. This series of violence had caused life casualties both from civilian and security personels. Therefore the government must seriously reveal this series of violence remembering the context of the incidence occurred moments before and after the presidential election, 8th July 2009.

Beside shooting victim, severeal civilian in Yapen district arrested due to involvement in separatism movement TPN/OPM suspicion. Closely look the violence in Papua, not all have conflict-politics motive, an example is shooting incident towards Melkias Agape in Nabire (25/6) caused by unprofesional act of police personel in dealing with cases in the society, also the shooting cases of Isak Psakor (16) from Kibay village (22/6) by members of TNI from Batalyon Infantri 725 Pos Sungai Bewan that was on patrol.

Violence in Pt.Freeport mining premises was not the first time. The unability of the Government in managing PT.Freeport were the roots of violence in the US owned mining company premises. Even a special committee for Freeport case established by DPR RI 2004-2009, failed to produce satisfactory achievements.

Security in the mining premises, became a "comodity" of PT. Freeport. In their report to the Security Exchange Commission (SEC) in the United States, released by International Network for Economic, Social & Cultural Rights, Consultation on Human Rights and the Extractive Industry, (Joint NGO Submission), Geneva, 10-11 November 2005, Freeport admitted have injected fund for TNI in 2001, overly 4-6 million USD. In 2004 the amount increase up to USD 6,9 million. This security fund is larger than the previous two years, that is USD 5,9 million and USD 5,6 million. And in 2004, the security policy was given to the police institution. Well suspected, that PT.Freeport security fund conflict were one of the trigger cause for violence in PT Freeport mining premises.

We urge all parties to wait for the undergoing police investigation. Specially, we request the supreme commander of TNI to halt every statement from members of TNI about suspected violence actors. Without accompanied by strong evidence, TNI statement aiming the suspects towards TPN/OPM will make situation worse. In our opinion, this tendencies is provocatif and leads to a single motive as a separatism conflict.

Separatism conflict paragdigm developed in Papua, is a part of tools in preserving injustice for Papua people. After the shooting incident of Australian, Drew Nicholas Grant (38) than the shooting of a PT Freeport security guard, Markus Rante Allo and followed by a member of police deceased body found, Bribda Marson Freddy Patiteikoni (13/7). Several personnel of TNI point out OPM as the suspect of shootout. TNI statement will only provoke insecurity situation for Papua people, Furthermore it will leads to a false opinion that could influence the ongoing investigation process conducted by the Police.

Based on the fact, shootout incident of Drew Nicholas Grant and Markus Rante Allo also the assasination of Bripda Marson shown trained type of suspect, comprehend geography of the premises, and had a skill of long range firearm usage.

Over this violence incidence in Papua, we the civil society calls for:


1. To the TNI and Government to halt provocatife statements over violence incident occurred in Papua, and gave the police all profesional and open investigation.

2. To the Police, to keep independency from outside intervention in revealing motive as actors of the violence.

3. To all parties, to stop stigmating separatism towards Papua people and start establishing joint solution for ongoing injustice through peacefull dialogue.

4. To the DPR RI 2004 – 2009, to immediately publicly announced the result of the special committee for PT Freeport case, established in 2006

Hereby our statements concludes, we appreciate your attenttion.


Jakarta, 15th July 2009
KontraS – Foker LSM Papua – PBHI - Imparsial - Perkerkumpulan Praxis –
Eknas Walhi – JATAM - PGI

The Commission for Dissapeared and Victims of Violence (KontraS)
Jl. Borobudur No. 14 Menteng
Jakarta Pusat 10320 Indonesia
phone : 62-21-3926983
fax : 62-21-3926821
email : kontras_98@kontras.org
website : www.kontras.org
mailinglist : info_kontras@yahoogroups.co.uk
Read More - Abandon "Separatism conflict" paradigm for Justice towards the Papua People

Kamis, 16 Juli 2009

Rentetan Penyerangan di Timika

SUNGGUH memprihatinkan memperhatikan perkembangan situasi keamanan di kawasan konsesi tambang tembaga/emas PT Freeport McMoran, di Timika, Kabupaten Mimika, hari-hari ini. Sudah sejak 11 Juli hingga 15 Juli berlangsung terus aksi penembakan dan pengadangan oleh kelompok bersenjata di jalan yang menghubungkan Timika dengan wilayah tambang. Korban tewas sudah berjatuhan, termasuk satu warga Australia dan sejumlah polisi. Namun, sampai hari ini tidak ada tindakan apa pun untuk memburu para pelaku, karena mereka masih dengan bebas melancarkan aksi penembakan dan pengadangan.

Jelas aparat Polri tidak mampu menghadapi aksi-aksi oleh orang-orang terlatih seperti ini, yang diduga adalah putra daerah mantan TNI yang desersi. Padahal, aksi-aksi bersenjata seperti ini sudah tidak bisa lagi dikategorikan sebagai tindakan terorisme atau kriminal biasa, melainkan gangguan keamanan oleh kelompok bersenjata sehingga harus dihadapi secara militer pula.
Namun, bila satuan-satuan TNI diturunkan untuk memburu kelompok-kelompok bersenjata seperti ini, hendaklah hal itu tidak dilakukan dengan serampangan, yang pada akhirnya membuat masyarakat sipil yang tinggal di kampung-kampung dan di tengah hutan menderita. Pada masa lalu selalu ada laporan-laporan penduduk disiksa agar mengaku, atau kampung mereka dibakar oleh kelompok tentara yang melancarkan operasi mengejar OPM/TPN.
Kita perlu mengingatkan hal itu karena soal Papua sangat bernuansa internasional. Misalnya, pada 15 Oktober 2008 di London diluncurkan sebuah kaukus bernama International Parliamentarians for West Papua (IPWP), oleh sejumlah anggota parlemen dari Inggris, PNG, dan Vanuatu. Jelas kaukus seperti ini dimaksudkan untuk menggalang dukungan internasional terhadap upaya separatisme Papua dari Indonesia. Sekarang memang kelompok-kelompok seperti ini belum kelihatan gerakannya. Namun, kita harus belajar dari proses lepasnya Timor Timur, Pemerintah RI gagal dan kalah karena menghadapi jaringan LSM internasional yang berjuang untuk kemerdekaan Timor Timur, sementara pendekatan di dalam negeri diutamakan secara militer yang ujung-ujungnya pelanggaran HAM.

Peningkatan aksi-aksi bersenjata secara simultan di Papua belakangan ini, yang pecah sejak digelar pemilihan umum legislatif pada April lalu, haruslah dipandang serius karena hal itu merefleksikan banyak hal. Yang pasti, meski sudah tujuh tahun dilaksanakan Otonomi Khusus Papua (melalui UU No 21 Tahun 2001) dan sudah lebih Rp 26 triliun digelontorkan untuk Papua dan Papua Barat, kemajuan yang signifikan tidak tampak di wilayah ini.
Yang jelas tampak adalah peningkatan kekayaan di kalangan para elite politik dan pemerintahan di Papua dan Papua Barat (banyak dari mereka punya rumah di Jakarta atau Australia), sementara mayoritas rakyat tetap miskin dan terbelakang. Perkembangan yang seperti ini jelas tidak menguntungkan bagi upaya membangun rasa senasib sebagai sesama bangsa Indonesia. Bila kemiskinan dan keterbelakangan terus berlangsung maka perasaan sebagai warga negara kelas III di Republik Indonesia tidak akan pernah hilang dan desakan dari dalam dada untuk merdeka dari Republik Indonesia akan tetap ada.

Jakarta harus menempuh langkah-langkah khusus untuk menyelamatkan Papua. Langkah itu bukanlah dengan mengirim tentara tambahan, kelompok dakwah atau orang-orang dari Indonesia bagian Barat untuk mengimbangi (bahkan mengalahkan jumlah) penduduk asli Papua, melainkan dengan operasi khusus untuk meningkatkan kapasitas (capacity building) sumber daya manusia di Papua.

Harus pula ditempuh langkah-langkah khusus untuk pendampingan bagi upaya pembangunan di kedua provinsi ini. Jakarta harus menargetkan bahwa Otonomi Khusus Papua tidak boleh gagal, bahkan harus berhasil. Ia tidak boleh berpusat pada pengalokasian anggaran yang besar bagi dua provinsi di pulau itu, namun juga pada unsur pengawasan penggunaannya (harus diadit, kalau perlu investigatif) agar tepat sasaran.

Ingat, Otonomi Khusus adalah tawaran yang diajukan oleh Jakarta kepada masyarakat Papua yang menuntut lepas dari Republik Indonesia dan bukan permintaan masyarakat di Papua. Dengan demikian, keberhasilan atau kegagalan pelaksanaannya adalah tanggung jawab Jakarta. Jika Otsus Papua, yang ditargetkan berlangsung 20 tahun, tidak mencapai sasaran dan tidak ada kemajuan yang signifikan di Papua, bisa diduga negara-negara lain akan mulai intervensi dan mendukung pemisahan Papua dari Indonesia, meski mereka tahu secara wilayah ia masuk Republik Indonesia.
Read More - Rentetan Penyerangan di Timika

KONFLIK PAPUA DAN AKAR PERSOALANNYA

A. Konflik

Eskalasi konflik separatisme dan aksi terror akhir-akhir ini cukup menyita perhatian public nasional dan internasional. Terror dan issu separaratisme Papua memang sudah lama ada, namun yang cukup mengecutkan semua pihak karena peristiwa teroor ini waktunya bersamaan dengan Pemilu 2009, dan tensinya sangat tinggi terjadi sepanjang waktu rakyat Indonesia sedang melaksanakan pesta demokrasi. Sejumlah insiden diberbagai tempat pelosok Papua, tentu ada aktor inteletual dibalik semua peistiwa yang banyak mengorbankan rakyat kecil itu. Karena serangkaian peristiwa terror dan issu separatisme waktunya bersamaan dengan pelaksanaan Pemuli Legislative dan Pemilu Presiden Indonesia .

Dalam siaran persnya kamis 15 Juli 2009 Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Victor Yeimo dan Aliansi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua Indonesia (AMPTPI) Marcus Haluk menolak tegas organisasinya terlibat dalam peristiwa penembakan di Timika yang menewaskan warga Australia. Padahal sebelumnya Sekjen KNPB Demus Wenda pernah mengakui bahwa beberapa insident seperti Tinginabut, pembakaran Gedung Rektorat Uncen, Penguasaan Lapter Kapeso, penyerangan Polsek Abepura dan Kampung Slayer Abe Pante adalah gerakan rakyat Papua yang mencari kedaulatan.

Padahal dengan adanya Otsus Papua harusnya mampu mencegah separatisme. Alasannya dengan limpahan trilyunan rupiah yang dikucurkan pemerintah pusat untuk percepatan pembangunan dan kesejahteraan rakyat meredam anasir separatisme. Itu memang sesuai dan wajar mengingat konrtibusi Papua cukup tinggi dalam membayar pajak negara, misalnya hanya menyebut satu, PT Freeport saja, pemerintah tidak secara serius atau tidak ada kemauan baik mentuntaskan konflik Papua secara konprehenshif sekaligus.

Sebagai akibatnya bisa di tebak bahwa dana trilyunan yang dikucurkan pemerintah pusat tidak menghalangi perjuangan Merdeka rakyat Papua untuk berdaulat penuh, malah anasir-nasir separatisme tetap muncul kembali. Semua usaha pemerintah seakan tidak mempan untuk meredam keinginan aspirasi “M” (merdeka) Papua. Terbukti dengan limpahan sekian banyak dana trilyunan belum mampu meredam aksi separatisme Papua. Dimana kesalahannya dan bagaimana solusi penyelesaian konflik berkepanjangan di Papua mau diakhiri?

Menjelang Pemilu Legislatif dan Pilpres tahun 2009, aksi terror dan separatisme tetap, malah semakin tinggi eskalasinya. Pilpres tahun 2009 diharapankan terwujud pemerintahan demokratis dan penegakaan HAM, malah dicederai oleh terror. Padahal hasil quick count SBY-Budiono pemenang sementara Pemilu 2009, yang dipilih secara langsung jujur adil dan demokratis diharapkan mampu meredam semua konflik berkepanjangan. Malah sebaliknya aksi-aksi terror dan separatisme justeru mencederai semua harapan itu. Jika tidak hati-hati ditangani bukan tidak mungkin Papua bisa lepas, dan eskalasi resistensi masyarakat akan lebih besar dan tinggi untuk memisahkan diri dari NKRI.

Serangkaian aksi terror menjelang dan pasca pemilu legislative seperti; penemuan bom di jembatan Kali Tami Jayapura, pembakaran Rektorat Uncen, Kantor KPUD, penikaman beberapa warga di Perumnas I, II, II Waena Kota Jayapura, penikaman tukang ojek di Wamena, pembakaran tangki minyak di Biak, penembakan dan pembakaran warga sipil di Kapeso Mamberamo Raya, pemenbakan warga sipil oleh anggota TNI di perbatasan RI-PNG, dan sejumlah peristiwa lainnya menjelang pemilihan Presiden sangat mengejutkan semua pihak.

Tidak begitu jelas siapa pelaku sesungguhnya dibalik semua aksi terror ini. Tapi ada kesan aparat TNI/POLRI dan TPN/OPM sama-sama bermain. Yang pasti aksi terror lebih dasyat tapi juga terorganisir terus akan terjadi lagi di Papua pada waktu akan datang, melampaui aksi terror saat ini. Aksi pembunuhan misterius secara sadis pada malam tanggal 8 April 2009 Wamena menunjukkan pelakunya sangat terlatih dan perofesional, mengingatkan kita kasus sama di Tasikmalaya oleh Naga Hijau, dan itu dilakukan satu hari sebelum pencoblosan Pemilu Legislatif tanggal 8 April tahun 2009. Jika begitu ada apa sebenarnya dan siapa pelaku sesungguhnya?

Dari ciri-ciri modus operandinya pelaku diduga keras kelompok terlatih, yang pastinya bukan OPM. Walaupun demikian pihak militer menuduh bahwa dibalik semua peristiwa aksi terror di sejumlah tempat di Papua dilakukan oleh kelompok garis keras sayap militer TPN/OPM. Di Ibukota Propinsi Papua saja aksi terror terus-menerus terjadi di sejumlah sudut kota Jayapura, misalnya pembakaran Kampus Uncen, penyerangan Kampung Slayar di AB Pante, insiden Punjak Jaya, Bandar Udara Perintis Kasepo Memberamo dan sejumlah kasus lain di Papua.

Lalu siapa sesungguhnya pelaku peristiwa penembakan di Mile 52 pada 11 Juli 2009 pukul. 05.00 WIT, yang menimpa Karyawan PT Freeport Indonesia yang bekerja di Departement Expert Munical Contruction, berwarga negara Australia, Mr. Ddrew Nicholas Grant (38), bersama Mr. Lucan Jhon Biggs (pengemudi) dan Maju Pandjaitan (rekan kerja korban) di Timika Papua yang menyita perhatian Internasional karena korban penembakan warga negara asing (Austaralia) ?

Sejauh ini TPN/OPM menolak keras dirinya terlibat terror ini. TNI/POLRI belum mengaku, kita masih tunggu hasil penyidikan terakhir akan mengarah ke pihak mana. Sejauh ini belum ada pengakuan dari kelompok manapun, baik TNI/POLRI maupun TPN/OPM. Selang sehari baku-tembak antara TNI/POLRI dan masyarakat kembali terjadi di Yapen Waropen.

Jelang Pemilu legislative dan Pemilu Presiden tahun 2009 paling banyak terjadi serangkaian aksi TPN/OPM dan TNI/POLRI secara sporadis di Papua Barat. Sejak tahun 2008 dirasakan intentitas kegiatan separatisme TPN/OPM dan terror TNI/POLRI dirasakan sangat tinggi di Papua. Bahkan sampai saat ini masih terus berlangsung tanpa bisa diketahui kapan berakhir. Intinya Otsus dengan banyak kucuran dana trilyunan tidak merubah apa-apa untuk meredam terror TNI/POLRI dan konflik separatisme di Papua. Harus ada solusi konpreheshif sekaligus dilakukan oleh pemerintahan yang dipilih jujur demokratis dan langsung yang dimenangkan pasangan SBY-BUDIONO kedepan untuk mengatasi peristiwa terror dan issu separatisme di papua.

B.. Akar Masalah

Papua Barat (dulu, Irian Jaya), sejak integrasi melalui PEPERA tahun 1962 dan resmi disahkan oleh PBB tahun 1979, maka penyelesaian konflik berkepanjangan terus terjadi belum pernah terwujud selama ini. Seakan jalan secara damai tak pernah ada ujung. Sebab sepanjang integrasi Papua selalu ada konflik dan itu menyebabkan banyak korban berjatuhan pihak TPN/OPM vs TNI/POLRI dan rakyat Papua. Mengapa ini bisa terjadi? Karena PEPERA tahun 1962, sesungguhnya rekayasa Soekarno dan John F Kennedy. Presiden pertama RI itu pada masa perang dingin antara Blok Barat (AS) dan Blok Timur (Unisoviet), secara politik lebih condong ke Blok Timur. Karena itu wajar kalau kemudian Amerika khawatir pada sikap politik Soekarno itu, maka tawarannya adalah Papua harus “dititipkan” untuk di kontrol untuk waktu sementara kepada Soekarno dengan syarat sewaktu-waktu Papua menentukan nasibnya sendiri kelak di kemudian hari.

Namun pergantian Presiden RI dari Soekarno kepada Soeharto persoalannya menjadi berbeda, masalahnya jadi kabur, di tambah lagi dengan adanya kontrak karya PT Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc, yang sudah lebih dulu masuk- persetujuan izin penambangan ditandatangani pada tahun 1967 -sebelum status Papua resmi masuk Indonesia di dewan PBB tahun 1979.. Sejak itu Rakyat Papua selama 45 tahun integrasi dibungkam habis.. Mereka tidak boleh menyanyikan : Hai Tanahku Papua, dan menghormati Bintang Kejora, di seluruh pelosok Papua hanya boleh ada satu Indonesia Raya dan bendera Merah Putih. Demikian berlangsung selama 45 tahun. Jangan boleh bicara lain selain persoalan Papua dianggap selesai final sebagai bagian tak terpisahkan dari NKRI.

Namun pasca kejatuhan Presiden Soeharto Mei 1998 dan bergulirnya era reformasi, seiring dengan adanya jaminan kebebasan berbicara, persoalan Papua mulai terkuak kepermukaan. Orang-orang Papua mulai mempersoalkan dirinya didalam NKRI dan menuntut pengembalian kedaulatannya yang konon sudah merdeka pada tanggal 1 Desember tahun 1961. Belakangan orang menjadi tahu bahwa kenyataannya memang persoalan Papua sejak awal ada masalah terutama dalam proses integrasi. Karena itu dengan sendirinya persoalan Papua tidak habis selesai sampai situ.

Kampanye dan persiapan membentuk pemerintahanpun dipersiapkan pasca kejatuhan Presiden Soeharto. Satgas Papua, PDP dan kabinet bayanganpun dibentuk dalam Kongres ke II di GOR Jayapura pada tahun 2001. Mereka mulai mengaku dirinya bukan sebagai bagain dari Indonesia , keberadaannya di dalam NKRI tidak sah. Sebab proses integrasi banyak masalah menurut orang Papua. Karena itu integrasi Papua kedalam NKRI dengan sendirinya tidak sah dan cacat hukum. Bukan seperti bahasa para pejabat selama ini yang sering mengatakan: “Papua telah kembali kepangkuan Ibu Pertiwi ( Indonesia )”, sehingga seakan-akan tidak ada persoalan dalam integrasi Papua dalam NKRI.

Bertepatan dengan reformasi mahasiswa Indonesia orang Papua mulai buka mulut dan bicara menuntut memisahkan diri dari Indonesia . Hal itu diawali dengan dialog 100 tokoh Papua yang dipimpin Tom Beanal (kini ketua PDP) bertemu dengan Presiden BJ. Habibi pada tanggl 26 Februari 1999 dan puncaknya Kongres Papua ke II, yang didanai 1 Milyar oleh Presiden Gus-Dur. Kongres ini diadakan di Jayapura, tgl. 29 Mei s/d 4 Juni 2000, dan dihadiri ribuan orang diantaranya 501 peserta yang mempunyai hak suara. Kongres meminta perhatian atas empat kenyataan de facto:

1. bahwa pada tahun 1961 Bangsa Papua sudah diberikan kedaulatan;

2. bahwa Bangsa Papua tidak terwakili sewaktu New York Agreement ditetapkan pada tahun 1962;

3. bahwa Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) tahun 1969 bercacat hukum dan dilaksanakan disertai intimidasi dan penindasan;

4. bahwa ada sejarah pelanggaran HAM selama 38 tahun terakhir ini yang tidak pernah ditangani secara hukum.

Hasil kongres rakyat Papua ke II ini pada akhirnya membuat sejumlah keputusan rekomendasi, misalnya pelurusah sejarah Papua, agenda dialog, dan pembentukan kabinet bayangan pemerintahan transisi membuat ketakutan tersendiri para pemimpin Indonesia . Konpensasi dari sejumlah rekomendasi Kongres Rakyat ke-II ini sangat mempenagruhi kebijakan keputusan pemerintah pusat Indonesia Misalnya PT. Freeport tetap diambil Amerika dan sedikit ganti kerugian Tanah Ulayat, maka kegiatan sosial bagi rakyat miskin dan terbelakang 7 suku Timika diperhatikan Perusahaan emas terbesar dunia milik Amerika Serikat itu pada akhirnya harus bayar pajak kepada negara Indonesia sangat tinggi saat ini.

Karena proses integrasi Papua kedalam NKRI penuh rekayasa kepentingan Amerika dan Indonesia , sehingga dengan sendirinya bagi orang Papua integrasi hanyalah aneksasi paksa dan karenanya cacat hukum. Bagi kebanyakan orang Papua, PEPERA yang konon katanya tanpa memenuhi mekanisme, one man one vote (satu orang satu suara) adalah essensi permasalahan dari semua konflik antara TNI/POLRI dan TPN/OPM selama ini. Maka sebelum ada kemauan baik politik para pemimpin Indonesia , maka sepanjang itupula solusi penyelesaian konflik Papua tidak pernah ada titik temu.

Konflik terus berkepanjangan sehingga melahirkan banyak korban di pihak rakyat Papua. Bahkan selama 45 tahun integrasi dengan Indonesia sama sekali tidak membawa kemajuan bangsa Papua. Bahkan para pemuka Papua merasa, dan itu akhir-akhir ini, ada gejala yakni suatu upaya proses genosida (punahisasi) etnis Papua secara terselubung (HIV/AIDS, dilakukan dan sengaja dibiarkan terjadi melalui alcohol, KB, Otsus Papua dll) maupun konfrontasi antara rakyat dengan pihak militer Indonesia.(Lihat misalnya buku yang ditulis oleh Sendius Wonda, Tenggelamnya Ras Melanesia, Penerbit : Deiyei, Jogja, 2008).

Memang ada sesuatu yang baik, jadi maksudnya benar, dari Gus-Dur, yang tidak mampu dimengerti Presiden lain Indonesia . Misalnya hal-hal simbolik bukan essensi bernilai cultural Papua harus dihargai karena keunikannya, tidak dipahami baik Presiden berikutnya. Misalnya MRP di Pasung, pencurian emas Papua oleh Freeport Amerika tetap dibiarkan oleh negara, simbol-simbol cultural yang di zaman Gus-Dur di bolehkan orang Papua memakainya, sekarang dianggap haram dan subversip. Hingga ada pasal-pasal UU karet tentang terorisme siap membungkam atau dengan alasan terorisme kapan saja aparat militer menangkap, menyiksa bahkan halal memukul anak-anak mahasiswa Papua sampai mati di penjara.

Demikian ketua PDP, Dortheys Hiyo Eluay, mengalami nasib buruk dan martir ditangan aparat militer Maribuana Angkatan Laut 10 Hamadi Jayapura Papua dan sopirnya sampai hari ini belum pernah diketahui dimana, dihilangkan begitu saja tanpa jejak dan pesan, kita semua tidak pernah tahu adalah wajah buruk warisan Presiden Megawati bagi orang Papua.

SBY-JK melanjutkan kebijakan itu dan terus membiarkan terjadi sepanjang pemerintahan mereka. Sehingga banyak mahasiswa dan tokoh-tokoh HAM Papua sangat menderita dan banyak ditangkap dan disiksa ditahanan Polisi. Demikian ini menyisakan luka mendalam bagi kalangan aktifis rakyat Papua. Kebijakan pemerintah Indonesia terhadap rakyat Papua selain Gus-Dur, dinilai kurang sopan.

Umumnya terkesan mengekang orientasi kebebasan ekspresi seni dan budaya orang Papua. Bahkan dugaan kuat dikemukakan kalangan intelektual Papua misalnya Pendeta Dr. Socrates Sofyan Nyoman, Dr. Phil Erari dan Dr. Benny Giay bahwa benar ada proses genosida. Mereka sering menyinggung bahwa ada upaya secara sistematis proses genosida dan ecosida sekaligus yang sangat menyeramkan.

Itu berarti upaya secara terselubung pihak-pihak tertentu untuk membunuh habis rakyat Papua agar tidak lagi menuntut hak dan keadilan kedaulatannya. Jika benar provokasi para pemuka Papua selama ini, maka sudah barang tentu masalahnya bukan hanya hak bereksistensi didunia habitatnya saja tapi juga adalah menyakut mempertahankan hak hidup diri bangsa Papua..

Indonesia dengan stigma seperatisme, UU pasal karet terorisme, menjadikan dirinya semua menjadi halal, membunuh, menangkap dan menyiksa orang Papua boleh. Dan memang selama ini kita tahu, Jakarta banyak mengirim ribuan aparat keamanan bersenjata untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI. Oleh sebab itu Papua nun jauh sana harus banyak didatangkan berbagai kompi TNI/POLRI organic dan non organic. Konflik bersenjata antara pihak pejuang kemerdekaan (TPN/OPM) dan TNI/POLRI selalu saja ada darah, dan air mata tanpa pernah kita tahu kapan bisa selesai.

Maka sesungguhnya konflik vertical antara TNI/POLRI disatu pihak dan TPN/OPM dilain pihak adalah konflik paling primer sesungguhnya, dari semua rangkaian konflik sekunder lainnya yang ada di Papua Barat. Dan konflik seperti ini untuk Papua seakan kekal abadi, tanpa pernah ada usainya. Sebab selalu saja ada dan itu terus menerus akan ada walau ada Otsus. Disini kita tidak menemukan adanya perdamaian di meja perundingan antara rakyat Papua dan Indonesia melalui pintu dialog.

Malah yang terjadi selama ini yang kita amati adalah monolog (antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, berdialog sendiri) bukan dialog seharusnya antara TPN/OPM dan Jakarta . Bahkan pusat terkesan menghindari untuk tidak dikatakan “takut”, akhirnya memang tidak pernah terjadi dialog. Yang terjadi selama ini hanya pertemuan elit belaka yang dilakukan kelompok yang mengaku separatis (pejuang) Papua.

Padahal yang harus diajak berkompromi itu bukan dengan Pemda dan juga bukan dengan kelompok separatis buatan TNI/POLRI di kota tapi seharusnya dengan TPN/OPM. Sebab yang bertikai secara militer di Papua dengan TNI/POLRI bukan dengan Pemda atau PDP dan DAP dan LSM sejenisnya. Tapi anehnya selama ini perundingan elit Papua-Jakarta tidak pernah melibatkan kelompok ini.

Karena itu wajar akibatnya kalau kemudian konflik tertus-menerus. Dan itu terbukti di era Otsus yang pada mulanya diduga dapat meredam potensi konflik separatis, nyatanya itu semua terbantahkan oleh aksi-aksi separatisme yang dilakukan oleh rakyat Papua dan itu puncaknya, pemalangan lapangan terbang di Mamberamo raya, pembunuhan misterius di kota Wamena, pembakaran Kampus Uncen, penyerangan Pos Militer di Punjak Jaya, penyerangan rumah Bupati Tolikara, penyerangan Polsek Abepura, penyerangan kampong Slayer Abe Pantai dll.

Mengapa itu bisa terjadi? Bukankah dengan Otsus orang Papua sudah menerimanya? Harus diingat bahwa Jakarta tidak pernah berkompromi Otsus Papua dengan TPN/OPM tapi dengan Presidium Dewan Papua (PDP). Akibatnya sudah pasti konflik tiada henti-hentinya. Kecuali selama ini kita dengar bahwa Jakarta berkompromi dengan OPM kota buatan militer Indonesia .

Kita belum pernah saksikan bahwa sejauh ini pemerintah Indonesia pernah melibatkan TPN/OPM di kepulauan Fasipik dan dan TPN/OPM di rimba raya Papua. Yang dilibatkan dalam penyelesaian persoalan konflik di Papua, bukan dengan TPN/OPM sungguhan tapi TPN/OPM boneka buatan Militer Indonesia . Hasilnya sudah bisa ditebak bahwa sampai saat ini letupan-letupan kontak senjata kedua bela pihak terus terjadi di era Otsus tanpa sanggup dihentikan oleh siapapun.

B. Otsus Papua

Sejak Otsus diterima Presedium Dewan Papua (PDP) dengan syarat, maka banyak orang menduga bahwa persoalan Papua akan selesai dan separatisme bisa diredam. Tapi orang lupa bahwa seni dan budaya adalah menyangkut harkat dan martabat kemanusiaan manusia, dan itu bisa diketahui Gus-Dur yang tidak di pahami oleh Presiden Megawati Soekarno Putri, malah lebih tidak dimengerti aparat militer Indonesia di Papua.

Padahal harapan semua orang dengan Otsus Papua konflik bisa diredam, minimal menimalisir potensi-potensi konflik separatisme berkempajangan diakhiri disana sebagaimana penyelesaian konflik sama Nagri Aceh Darussalam (NAD). Demikian harapan Papua bahwa dengan Otonomi Khusus maka konflik separatisme di Papua bisa diminimalisir. Maka pemerintah Pusat banyak mengucurkan uang didaerah paling ujung Timur Indonesia itu, ternyata meleset, malah sebaliknya, intentitas kegiatan separatisme cukup tinggi dirasakan sepanjang pelaksanaan Pemilu tahun 2009, membantahkan tesis itu.

Otsus Papua dituangkan dalam UU No 21/2001, yang merupakan hasil proses pembahasan yang panjang di DPR, dan disepakati pemerintah. Namun sejumlah kalangan tidak percaya Otsus Papua dan itu terutama kalangan intelektual Papua yang berada di universitas. Apalagi TPN/OPM di rimba raya Papua, bagi mereka Otsus Papua sama sekali bukan solusi. Jargon TPN/OPM jelas, bagi mereka, Papua Merdeka harga mati sebagaimana NKRI harga mati bagi TNI/POLRI.

Kenyataannya sekarang memang benar diera Otsus Papua bahwa dengan banyak uang mengalir ke Papua belum mampu meredam keinginan rakyat Papua mau merdeka sendiri lepas dari NKRI. Sampai saat ini kita menyaksikan bahwa persoalan Papua belum selesai, sebagaimana dugaan dan harapan semua orang. Mengapa itu bisa terjadi? Harus diingat bahwa TPN/OPM di rimba raya tidak pernah dilibatkan dalam penerimaan Otsus Papua. Hanya PDP saja yang menerima tapi dengan dengan syarat, pelurusan sejarah dan tawaran dialog, yang kesemuanya itu tidak pernah ditaati pemerintah pusat. Karena itu wajar akibatnya kalau kemudian sejumlah kalangan intelektual Papua yang berada di universiatas tidak percaya Otsus Papua.

Mereka minta dialog antara Jakarta-Papua dan itu harus dimediasi oleh pihak lain sebagai penengah. Keinginan dialog secara gentelmant ini selalu ditampik Jakarta . Malah sebaliknya pemerintah Indonesia berkompromi dengan TPN/OPM buatan militer Indonesia yang berada di kota, walaupun harus diakui bahwa kelompok kompromistis ini, juga punya potensi menjadi TPN/OPM “benaran”, jika keinginan berkuasa tidak diperoleh apalagi tidak di jatah jabatan oleh pemerintah pusat.

Semua aksi-aksi secara sporadis tapi terorganisir oleh TPN/OPM akhir-akhir ini menunjukkan separatisme disana tidak pernah bisa padam, sekalipun dengan banyak uang dialirkan oleh pusat, bagi mereka terbukti Otsus Papua memang bukan solusi. Ada anggapan bahwa mentalitas orang Papua adalah mentaliltas konsumerisme yang berarti cukup diberi banyak uang agar diam dan kenyang. Karena pemerintah terkesan memberikan Otsus Papua semata-mata agar rakyat Papua yang menuntut pemisahan diri dari NKRI agar diam.

Sejauh ini terkesan pemerintah pusat tidak secara serius dan konsisten melaksanak Otsus Papua. Misalnya honor MRP yang tidak dibayar selama beberapa bulan, sekian banyak rekomendasi MRP yang tidak ditanggapi pemerintah. Padahal pembentukan MRP dan pengesahan melalui UU dan sahkan sendiri oleh SBY. Tapi barang yang disahkan pemerintah sendiri melalui UU tidak jelas gaji anggota MRP darimana mau diambilaknnya. Bahkan bagi aktifis Papua menganggap bahwa sekarang ini MRP bukan lagi lambang cultural rakyat Papua Barat. MRP sekarang ini tidak lebih hanya superbody pemerintahan colonial yang sebelumnya di era Gus-Dur, MRP mau difungsikan benar-benar sebagai lambang cultural karena disana ada keterwakilan semua suku dan budaya Papua seperti unsur perempuan, agama, dan golongan yang mencirikan pluralitas semua suku masyarakat Papua.

D. OPM: Otsus Bukan Solusi

Otsus Papua sebagai hasil kompromi antara Jakarta dan PDP bagi TPN/OPM di rimba raya Papua sama sekali tidak dianggap sebagai jalan penyelesaian soal Papua. Otsus bagi OPM di Pasifik dan TPN rimba raya Papua illegal/tidak sah. Sebab tidak ada ijab-qobul dalam akad perjanjian kedua belah pihak bertikai. Serah terima Otsus bukan dengan TPN/OPM yang selama ini dikenal gerakan resmi separatisme di rimba raya Papua. Hasilnya berbeda dari yang diinginkan. Apalagi kompromi jalan tengah itu selama ini tidak pernah melibatkan secara penuh kelompok TPN/OPM sesungguhnya yang berkeliaran di negara-negara kepulauan Pasifik di rimba raya Papua.

Hanya PDP saja yang menerima Otsus dengan syarat, tapi sejumlah kalangan intelektual Papua yang berada di universiatas tidak menerima Otsus Papua. Mereka meminta dialog antara Jakarta-Papua dan itu harus dimediasi oleh pihak lain sebagai penengah. Keinginan dialog secara gentelmant ini selalu ditolak Jakarta . Malah sebaliknya pemerintah Indonesia berkompromi dengan TPN/OPM buatan militer Indonesia yang berada di kota, walau harus diakui bahwa kelompok kompromistis itu, juga punya potensi menjadi TPN/OPM “benaran”, jika keinginan berkuasa tidak diperoleh apalagi tidak di jatah jabatan oleh pusat.

TPN/OPM tetap eksis di rimba raya Papua dalam aktivitas gerilya dan selalu akan mengganggu aktifitas pembangunan Papua pemerintah selama ini dalam kompromi mencari solusi soal Papua tidak pernah melibatkan mereka.. Karena bagi mereka selama ini Pemerintah Indonesia melibatkan kelompok lain dikota bukan langsung dengan dirinya (TPN/OPM) dalam penyelesaian konflik berkepanjangan di Papua.

Oleh sebab itu wajar akibatnya anasir-anasir separatisme belum pernah benar-benar padam. Bentrokan TNI/POLRI versus GAM dalam soal sama dibelahan ujung barat Indonesia itu sudah bisa dikatakan aman damai. Bahkan Gubernur NAD saat ini adalah Irwandi Yusuf, mantan Panglima GAM..

Awalnya dugaan pemerintah pusat Otsus Papua dapat meredam anasir separatisme. Tapi Otsus sesungguhnya hanya punya potensi menimalisir bukan jalan tengah, apalagi sama sekali bukan solusi final. Sebab sejauh ini dan itu tetap akan demikian selamanya, jika penyelesaian konflik, tanpa penegakan hukum dan HAM, maka perang antara TNI/POLRI versus TPN/OPM korban terus berjatuhan. Demikian juga kalau penyelesaian tanpa pernah melibatkan kelompok separatisme sesungguhnya TPN/OPM. Akhirnya harapan utopia” Papua Zona Damai” hanya live service belaka para tokoh pemuka Papua dan TNI/POLRI.

Selama ini yang duduk berunding hanya dengan beberapa orang kelompok pro Jakarta padahal banyak tokoh intelektual Papua tidak diikutkan. Mereka tetap eksis mempertahankan idealisme mereka di kampus-kampus. Mereka ini masih konsisten dengan prinsip mereka, no comromi! Bahwa bagi mereka penyelesaian kasus Papua solusinya adalah pelurusan sejarah, penegakan hukum, HAM dan demokrasi, baru benar ada perundingan perjanjian perdamaian menuju "Papua Zona Damai". Kalau tidak, bicara soal 'perundingan' elit Papua dan pusat, hanya omong kosong. Kecuali hanya menimalisir anasir-anasir separatisme potensial kaum intelektual dan OPM kota buatan militer Indonesia , bagi TPN/OPM dalam garis perjuangannya jelas, kemerdekaan dan kedaulatan penuh wilayah Papua dari aneksasi Indonesia .

Maka selama tuntutan mereka belum dipenuhi Indonesia sepanjang itu jalan itu yang akan mereka ditempuh. TPN/OPM tetap bersama rakyat Papua. Selama ini Jakarta berkompromi dengan kelompok LSM, pekerja sosial, kelompok peduli lingkungan bukan dengan TPN/OPM sesungguhnya yang ada dirimba raya Papua. Kelompok disebut terakhir ini entah oleh karena apa tidak pernah dilibatkan. Pertemuan kalau itu diadakan untuk penyelesaian kasus Papua TPN/OPM tidak pernah secara sanggup tersentuh dan terjangkau oleh militer apalagi pusat. Karena keberadaan meraka terpencar tidak hanya di satu titik wilayah Papua tapi semua sudut dan belahan lain di Fasifik.

Karena itu wajar perundingan elit Papua-Jakarta tanpa melibatkan mereka (TPN/OPM) dan tanpa kesadaran dialog sepanjang pelanggaran HAM, keadilan ekonomi, tidak ditegakkan maka selama itu pula perjuangan kemerdekaan tetap eksis. Bagi mereka selain dialog antara Papua-Jakarta yang di mediasi pihak internasional belum dipenuhi pusat, sepanjang itu pula TPN/OPM, mahsiswa dan rakyat Papua selalu menyuarakan dengan meneriakkan yel-yel perjuangan sambil mengangkat issu-issu relevant. Genosida! Jawanisasi! Islamisasi! Pelanggaran HAM! Demokrasi! Dan seterusanya.

Mahasiswa Papua dibelakangnya rakyat Papua dan TPN/OPM selalu mengeluarkan suara-suara sumbang itikad baik pemerintah Indonesia akan Otsus Papua dengan nada-nada misalanya Otsus gagal! Genosida! Islamisasi! Jawanisasi! Dan lain lain adalah sejumlah issu penting bagi mereka dan sepanjang penegakan HAM, keadilan ekonomi, sepanjang itupula eksistensi TPN/OPM tetap eksis dan letupan-letupan secara sporadic maupun terorganisasi akan terus muncul ditanah Papua.

Ismail Asso, Penulis adalah pengamat sosial politik Papua, tinggal di Walesi Wamena Papua, Kontak HP : 081383418655, Nomor rekening : 1010004866651 Bank Mandiri An Ismail Asso

Read More - KONFLIK PAPUA DAN AKAR PERSOALANNYA

Rakyat Papua "Telanjang" di Atas Tanah yang Kaya

AKARTA, KOMPAS.com - Meski tanah Papua dianugerahi kekaRakyat Papua "Telanjang" di Atas Tanah yang Kayayaan alam yang luar biasa tetapi rakyat Papua dinilai tetap miskin dan terbelakang akibat adanya diskriminasi dan ketidakadilan yang selama ini dilakukan oleh PT Freeport yang mulai beroperasi tahun 1967 .

"Tuhan menciptakan kita di atas tanah yang luar biasa. Masyarakat hanya sebagai penonton. Kita telanjang di atas tanah yang kaya," ungkap Titus Natkime perwakilan pemilik hak ulayat tanah operasi PT Freeport saat jumpa pers di kantor Walhi Jakarta, Kamis (16/7).

Titus menegaskan, PT Freeport selama beroperasi tidak memperhatikan hak-hak rakyat Papua, sebagai contoh telah merebut hak atas tanah rakyat Papua. "Kita yang punya tanah tapi kita tetap miskin. Apakah kami harus miskin terus sampai kiamat," lontarnya.

Pemerintah, katanya, harus berjiwa besar melihat kondisi rakyat Papua yang sebenarnya jangan hanya melihat korban penembakan yang terjadi akhir-akhir ini."Pemerintah harus melihat keterbelakangan, diskriminasi, kerusakan lingkungan yang kami alami akibat PT Freeport," ungkapnya.

Menurut Titus, meski PT Freeport sudah memberikan satu persen hasil dari eksplorasi untuk rakyat Papua, namun itu tidak berdampak pada kesejahteraan rakyat karena adanya aturan yang sangat ketat dalam pengucurannya. "Dana itu dikeluarkan bukan secara sukarela tapi hasil kerusuhan," katanya.

Ketua umum Liga Perjuangan Nasional Rakyat Papua Barat Arkilaus Arnesius Baho mengatakan, kehancuran tatanan hukum, peradaban komunitas di Papua akibat perlakukan khusus secara berlebihan terhadap PT Freeport sehingga mengakibatkan serentetan tindakan kekerasan di Papua. "Negara dan PT Freeport harus bertanggungjawab atas kekerasan tersebut," tegasnya.

Untuk itu, lanjutnya, tidak ada cara lain untuk mengatasi masalah tersebut kecuali dengan menutup operasi PT. Freeport. "Jika tidak kekerasan akan terus terjadi di Papua," lontarnya.



© 2008 - 2009 KOMPAS.com — All rights reserved
Read More - Rakyat Papua "Telanjang" di Atas Tanah yang Kaya

Rabu, 15 Juli 2009

Jalur Berdarah Timika-Tembagapura

VIVAnews - Sabtu 11 Juli 2009, mungkin tak pernah dibayangkan oleh Drew Grant (29), perjalanan manajer proyek Freeport asal asal Melbourne Australia untuk menghabiskan akhir pekan bermain golf, berakhir petaka.

Kelompok tak dikenal tiba-tiba memuntahkan peluru ke arah mobil yang ditumpangi Grant, lima tembakan beruntun menerjang leher, dada, dan perut Grant. Pria yang baru saja menjadi ayah itu langsung tewas, hanya seminggu setelah dia pulang ke Australia, menengok sang putri, Ella yang baru lahir.

Markas Besar Kepolisian menyebut senjata yang digunakan untuk menghabisi Grant adalah senjata laras panjang kaliber 55, yang biasa digunakan polisi maupun militer. Namun, Kepala Kepolisian RI, Jenderal Bambang Hendarso Danuri langsung meminta masyarakat tak berspekulasi soal siapa pihak yang bertanggungjawab atas teror tersebut.

Teman seperjalanannya, Lukan Biggs mengisahkan tembakan itu datang tiba-tiba tanpa peringatan. "Sangat tiba-tiba," kata Biggs seperti dimuat laman news.com.au. Biggs yang saat itu menyetir mobil dengan nomor seri LWB 01.2587 itu mengaku syok jika mengikat rekannya meregang nyawa.

Kematian Grant bukan akhir kekerasan di jalur Timika-Tembagapura. Keesokan harinya, pada Minggu 12 Juli 2009 pasukan Brimob dan Densus 88 yang dikirim untuk menyelidiki penembakan Grant, saat tiba di Mile 51 sekitar pukul 10.45 WIT, diserang kelompok tak dikenal dari arah kanan dan kiri jalan dengan senjata api.

Tak sampai ada korban jiwa namun anggota Densus 88, Iptu Adam Heri Gunawan terkena luka tembak di paha kiri dan AKP Anggun juga terkena serpihan pada jari tangan dan langsung dievakuasi ke RS Tembagapura.

Di hari yang sama, masih di jalur Timika-Tembagapura, darah kembali tertumpah. Pada Minggu 12 Juli 2009, kelompok bersenjata tak dikenal menyerang konvoi logistik ke Tembagapura. Seorang petugas keamanan Freeport, Markus Rattealtewas tewas dalam kejadian tersebut. Sedangkan jenazah anggota Provost Satuan Tugas Amole Polda Papua, Bripda Marson Freddy Patiteikoni ditemukan tewas di jurang keesokan harinya,

Kekerasan di jalur maut itu bukan kali ini terjadi. Kejadian serupa terjadi pada 2002, perjalanan akhir pekan dan perayaan ulang tahun Edwin Leon Burgen yang disertai istrinya, Nancy Carol, juga berujung petaka. Di Mile 62,5 jalur Timika-Tembagapura, Papua, kendaraan mereka dihadang dan ditembaki sekelompok orang tak dikenal. Direktur International School di Tembagapura yang warga negara Amerika Serikat itu tewas.

Rekan Burgen, Spier Rickey Lynn, serta seorang WNI F.X. Bambang Riwanto juga tewas dalam kejadian tersebut. Demikian pula yang terjadi pada 1994, dua karyawan Freeport juga tewas tertembak di dekat mile 62,5 .

Teror pun kerap terjadi di jalur tersebut. Salah satunya terjadi pada 11 dan 12 September 2008 aksi teror mortir terjadi di Mile 39 dan Mile 50 ruas jalan yang menghubungkan Timika-Tembagapura.

Kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik selalu dihubung-hubungkan dengan teror yang terjadi di Jalur Timika-Tembagapura. Sebaliknya berkali-kali juga Kelly Kwalik menyatakan tak bertanggungjawab atas kejadian berdarah di kawasan tambang emas itu. Kelly justru menuding oknum militer berada di balik teror.

Mengapa jalur ke tambang emas Freeport jadi sasaran? Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Agung Laksono punya dugaan. "Apakah kriminal, pembagian rejeki yang tidak setara, atau motif politik. Polisi harus buka pelakunya, dari kelompok mana kemudian diproses secara hukum, lebih cepat lebih baik," tambah Agung.

• VIVAnews
Read More - Jalur Berdarah Timika-Tembagapura

Imparsial Curiga Militer Terlibat Kekerasan di Papua

JAKARTA, KOMPAS.com — Imparsial menduga pihak militer terlibat dalam kasus kekerasan yang berturut-turut terjadi di Papua sejak tiga hari lalu. Hingga kini, korban tewas bertambah menjadi tiga orang, setelah kemarin anggota Polda Papua, Brigadir Dua Merson Pettipelohi, ditemukan tewas terbunuh.

"Kami menduga ada oknum-oknum militer yang ikut bermain di sini," kata Direktur Eksternal Imparsial Poengky Indarti, Selasa (14/7) di kantor Imparsial, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Kecurigaan ini, menurut Poengky, didasari analisis bahwa aksi kekerasan ini dilakukan oleh pihak-pihak yang sangat terlatih dan profesional.

Menurut Direktur HAM Imparsial Al Araf, kekerasan yang terjadi di Papua baru-baru ini dilakukan secara sistematis dan terencana. Para pelakunya sudah sangat ahli dalam menggunakan senjata api dan memahami kondisi medan setempat.

"Kecil kemungkinan pelakunya adalah kelompok separatis OPM. Konsolidasi mereka sudah tidak solid. Persenjataannya pun tidak memadai untuk melakukan penyerangan seperti yang sudah terjadi baru-baru ini," kata Al Araf.

Menurut Poengky, dengan kondisi penyerangan yang begitu sistematis dan terencana, hanya kelompok-kelompok terlatih seperti aparat militer yang sanggup melakukan serangan semacam itu. "Pelaku kekerasan di Papua bisa dikelompokkan menjadi dua. Yang pertama adalah mereka yang melakukan kekerasan karena persoalan ideologis dan satu lagi adalah mereka yang melakukan kekerasan karena dibayar oleh kelompok tertentu," katanya.

Poengky mensinyalir ada pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Papua berada dalam kondisi yang aman dan kondusif. "Mereka inilah yang bisa jadi merekrut dan mendanai oknum-oknum yang terlatih seperti militer untuk melakukan kekerasan ini," kata Poengky.

Read More - Imparsial Curiga Militer Terlibat Kekerasan di Papua

Selasa, 14 Juli 2009

Imparsial: Kekerasan di Papua Sarat Motif Politik

AKARTA, KOMPAS.com — Kekerasan yang sejak tiga hari lalu terjadi di Papua yang telah menewaskan dua orang yakni warga Australia, Drew Nicholas, dan personel Polda Papua, Brigadir Dua Merson Pettipelohi, merupakan sebuah tindakan yang disinyalir sarat dengan motif politik.

Demikian disampaikan Direktur Hubungan Eksternal Imparsial Poengky Indarti dalam konferensi pers menyikapi peningkatan eskalasi kekerasan yang terjadi di Papua pascapilpres, Selasa (14/7) di kantor Imparsial Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Poengky menilai aksi kekerasan yang terjadi di Papua baru-baru ini tidak terjadi dalam ruang yang kosong, tetapi justru sarat dengan motif politik. "Apalagi kekerasan ini meningkat pada saat dan pascapilpres," kata Poengky.

Menurutnya, kekerasan di Papua ini bisa jadi merupakan imbas dari semakin memanasnya kondisi politik di Jakarta. "Ada kemungkinan kasus ini merupakan akibat dari kepentingan-kepentingan yang terkait urusan pilpres kemarin," kata Poengky.

Ia menilai bahwa aksi ini dilakukan oleh oknum-oknum yang menginginkan Papua tetap berada dalam kondisi ketidakamanan sehingga terus menempatkan Papua sebagai daerah yang rawan konflik. "Perlu diingat, aksi kekerasan yang terjadi di Timika bukanlah yang pertama terjadi. Sebelum pilpres dan pileg juga sudah terjadi aksi semacam ini. Di titik itu, peristiwa kekerasan di Papua bisa jadi merupakan rangkaian terpisah, namun juga bisa merupakan suatu rangkaian yang terkait," ujar Poengky.

Lebih lanjut Koordinator HAM Imparsial Al Araf meminta kepada pihak aparat keamanan untuk tidak dengan mudah menuding Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai pelaku teror tersebut. "Jangan langsung mengkambinghitamkan kelompok tertentu sebelum ada investigasi yang serius," kata Al Araf.

Karena itu, Imparsial mengimbau kepada aparat kepolisian untuk bertindak tegas dalam menangani kasus kekerasan di Papua. "Jangan sampai aparat kepolisian terjebak dalam spekulasi yang tak jelas asal-usulnya," kata Al Araf.

Read More - Imparsial: Kekerasan di Papua Sarat Motif Politik

DPRD Mimika Kecam Keras Pelaku Penembakan

JAKARTA, KOMPAS.com- Kalangan DPRD Mimika, Papua, mengecam keras pelaku penembakan di areal PT Freeport Indonesia (PTFI), Sabtu (11/7) dan Minggu (12/7).


"Kami menyesalkan kejadian ini. Kami mengecam keras tindakan para pelaku. Apa pun alasannya, tindakan mereka tidak dapat dibenarkan dari sisi apa saja. Apalagi para korban ini tidak tahu apa-apa," kata Ketua DPRD Mimika Yoseph Yopi Kilangin, Selasa (14/7).

Menurut Yopi, hingga kini belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab terhadap aksi kekerasan itu. Dari laporan pihak kepolisian di Timika, peristiwa penembakan yang terjadi di sekitar Mile 50-53 ruas jalan Timika-Tembagapura itu mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, dan lima lainnya mengalami luka-luka dan hingga kini masih dirawat di rumah sakit Kuala Kencana, Timika. Satu dari korban yang mengalami luka-luka, dilaporkan dalam kondisi kritis.

Sedangkan tiga orang yang meninggal yaitu Drew Nicholas Grant, warga negara Australia yang ditembak di Mile 52, Sabtu dinihari(11/7). Selanjutnya Markus Rante Allo, petugas sekuriti PT FI yang tertembak di Mile 51 pada Minggu (12/7), dan Bripda Marson Patipelohi, anggota Propam Polda Papua yang tergabung dalam Satgas Amole VII.

Jasad Bripda Marson ditemukan di jurang pada kedalaman sekitar 50 meter di Mile 64, Senin (13/7) siang.

Yopi mengatakan, dilihat dari motif kejadian, para pelaku mengincar PT FI sebagai sasaran aksi mereka. Hal itu, katanya, bisa saja terkait dengan kebijakan sistem pengamanan di areal PT FI yang sangat ketat.

"Sistem pengamanan di PT FI sangat tertutup, tidak dapat diakses oleh siapa pun termasuk masyarakat dan sampai sekarang belum pernah dibicarakan secara terbuka dengan semua pihak," kata Yopi yang juga putra asli suku Amungme, pemilik ulayat atas areal pertambangan PTFI di Grassberg Tembagapura.

Ia berharap, PT FI bersama Pemerintah Daerah Mimika dan masyarakat adat pemilik ulayat membicarakan sistem pengamanan di areal perusahaan, sehingga tidak menghambat aktivitas masyarakat setempat.

Selain itu, penertiban pendulang tradisional di sepanjang Kali Kabur (Sungai Ajkwa) sekitar bulan Februari-Maret lalu bisa saja berdampak pada munculnya ketidakpuasan masyarakat, terutama warga yang kampnya dibakar saat penertiban. Sehubungan dengan peristiwa ini, Yopi mengimbau masyarakat Mimika tetap tenang dan tidak provokasi.

Sent from Indosat BlackBerry powered by

Read More - DPRD Mimika Kecam Keras Pelaku Penembakan

Kamis, 09 Juli 2009

Otsus Papua, Macam Mana?


Oleh: Frans Maniagasi

Pada Rabu, 20 Mei 2009, sekitar pukul 19.30 WIT, ketika saya makan malam bersama seorang kawan dosen dari Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di salah satu kafe tenda di bilangan Ruko II Jayapura, datang seorang anak lak-laki asli Papua, berusia sekitar 10 tahun, katakan saja namanya Jimmi. Ia menawarkan Alkitab dan Renungan Harian Kristen. Spontan saya bertanya: "Kamu kelas berapa?" Jimmi tidak menjawab, dia terdiam, kepalanya tertunduk. Saya mengulangi pertanyaan saya. Jawaban Jimmi: "Saya tidak sekolah." "Mengapa?" Ia menjawab: "Saya tidak bisa sekolah, karena orangtua saya tidak bekerja"

Dialog singkat itu menimbulkan berbagai pertanyaan. Ada sesuatu yang tidak logis dan yang tak beres, yang saya temui malam itu di pusat Kota Jayapura, ibukota Provinsi Papua, tidak jauh dari kantor gubernur.

Suatu realitas, seorang bocah asli Papua tidak bisa sekolah, karena orangtuanya tidak bekerja. Ada dua realitas yang saling terkait, yaitu si Jimmi, yang tidak bisa sekolah dan orangtuanya tidak bekerja. Kedua kenyataan ini memiliki hubungan sebab dan akibat, yang bersumber dari kebijakan pembangunan dan pemberdayaan yang kurang memihak kepada Jimmi dan orangtuanya.

Jika kita kaitkan dengan tujuh tahun pelaksanaan UU 21/2001 tentang Otonomi Khusus Papua, itu adalah realitas yang selama ini telah tampak di permukaan, yang kurang termonitor dan yang sengaja diabaikan. Seorang anak asli Papua berusia 10 tahun, terpaksa tidak dapat sekolah, karena tidak ada biaya. Ironis, di tengah membanjirnya dana otsus dan dana pembangunan lainnya, yang hanya terdengar dari "jauh", tapi sulit untuk digapai.

Yang membuat kondisi ini semakin mengharu-birukan, kehadiran Jimmi pada malam itu mengundang kekhawatiran bila kita tidak melakukan proteksi (perlindungan), afirmasi (keberpihakan) serta pemberdayaan orang Papua, khususnya generasi muda. Maka Papua akan menghadapi potensi hilangnya suatu generasi ke depan, yang tidak berpendidikan.

Saya prihatin, otsus yang tadinya didesain sebagai solusi untuk menjawab masalah tersebut, dalam implementasi, khususnya pada bidang pendidikan, yang memperoleh alokasi dana terbesar (30 persen), kenyataannya pada APBD Papua (TA 2009 ) hanya 7 persen (Cepos, 29 April 2009), masih jauh dari harapan dan tujuan UU tersebut.


Aspirasi

Pertanyaannya, siapa yang mesti dipersalahkan dan yang bertanggung jawab terhadap situasi ini? Apakah kebijakan Otsus yang tidak memihak kepada orang asli Papua ataukah hal lainnya? Realitas ini memperlihatkan bahwa kita kurang mengidentifikasi kenyataan, aspirasi, kepentingan, serta kebutuhan masyarakat sebagai terjemahan dari UU Otsus dalam program pendidikan dan pemberdayaan orang asli. Padahal, ada hubungan linear di antara kenyataan permasalahan masyarakat, seperti yang dialami oleh Jimmi dan pemberlakuan UU 21/2001. Undang-undang Otsus telah mengakomodasi dan sekaligus merupakan solusi terhadap permasalahan Papua, termasuk soal pendidikan.

Perbedaan tersebut disebabkan kenyataan, penyusunan program pembangunan termasuk pendidikan di Papua masih kurang menerjemaahkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat, seperti diamanatkan oleh UU Otsus, sehingga program pendidikan dijalankan sesuai selera masing-masing, yang diwujudkan dalam bentuk proyek.

Selain itu, menurut pendapat saya, sampai saat ini belum diidentifikasi dan dijabarkan, semacam daftar isian masalah (DIM), apa saja program pendidikan yang diamanatkan dalam UU 21/2001 dan alokasi anggarannya dari dana otsus, meskipun telah diterbitkan Perdasi tentang pendidikan dua atau tiga tahun yang lalu.

Akibatnya, program pendidikan atau pembangunan yang dilaksanakan lebih bersifat elitis. Artinya, kita lebih bangga kalau ada anak- anak Papua yang menjadi juara olimpiade fisika atau matematika internasional. Hal ini tidak salah, tetapi kita tidak prihatin tatkala seorang anak asli Papua tidak bisa sekolah, karena tidak ada biaya akibat orangtuanya tidak bekerja.

Politik pembangunan kita adalah politik pembangunan konsumtif, yang hanya mengonsumsi keberhasilan warga negara dan bukan politik pembangunan kreatif dan produktif, memproduksi keberhasilan warga negara. Dalam UU Otsus Papua secara substantif terkandung tujuan bahwa keputusan pembangunan dan pemberdayaan dikembalikan kepada otoritas masyarakat.

Dengan kata lain, kebijakan pembangunan dan pemberdayaan termasuk pendidikan orang Papua diletakkan pada kearifan lokal, termasuk meminimalisasi persoalan, seperti yang dihadapi oleh Jimmi dan kawan-kawannya. Itulah salah satu filosofi yang mendasari dicantumkannya alokasi Dana Otsus sebesar 30 persen (UU 21/2001) untuk pendidikan di Papua.

Oleh karena itu, seyogianya kita mempunyai dua kemampuan yang dijalankan secara bersama-sama. Pertama, keterampilan membumi dan kedua kesanggupan mengudara. Tuntutan yang sering kita dengar ialah agar seseorang mampu membumi dan membumikan gagasannya, tapi pada saat yang bersamaan adalah kemahiran mengudara. Kalau kita bicara tentang otsus, maka ada hak konstitusional yang mesti diproteksi, diafirmasi dan diberdayakan.


Masa Depan

Apa yang mesti diproteksi, berapa lama diproteksi, bagaimana cara memproteksinya. Demikian juga dengan keberpihakan, siapa yang mesti diafirmasi, bagaimana mengafirmasikannya, apa saja yang mesti diafirmasi, dan berapa lama afirmasi itu dilakukan. Demikian juga dengan pemberdayaan.

Kalau pemanfaatan hak konstitusional ini telah dikontrol dan terukur maka diharapkan tercapai kemanusiaan yang adil dan beradab di Papua. Tapi, jika sampai tahun ketujuh pelaksanaan otsus ternyata masih dihadapkan pada masalah banyaknya anak Papua yang tak dapat bersekolah, karena tidak ada biaya, maka sadar atau tidak kita sedang menggiring mereka melewati hari-hari tanpa masa depan yang jelas dan pasti. Sebaliknya, dengan kemahiran mengudara kita akan segera melihat bahwa membiarkan suatu realitas sosial sedang terjadi di depan mata kita, puluhan bahkan ratusan anak-anak Papua seperti Jimmi yang tidak bisa sekolah, karena tidak ada biaya, hal itu merupakan pelecehan terhadap hak konstitusional yang telah dikerangkakan dalam UU No 21/2001.

Jika kita tak memiliki dua kemampuan itu maka implikasi yang akan kita hadapi, pertama, kita kurang mewujudkan perikemanusiaan yang adil dan beradab. Kedua, terabaikannya asas kesejahteraan rakyat, Ketiga, terjadi vakum kekuasaan, karena kekuasaan negara yang mesti melindungi warga negara terasa absen di Tanah Papua.

Apabila terjadi pengingkaran atau kesenjangan antara tuntutan otsus dan realitas sosial, maka gelombang ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah tidak terbendung. Fenomena itu telah tampak dengan pernyataan otsus gagal. Namun, kegagalan itu bukan pada tataran yuridis -formal UU 21/2001, tapi pada level implementasi.

Mungkin, makna filosofis di balik adanya gagasan rekonstruksi menuju amendemen UU 21/2001, akhir akhir ini, yang disuarakan oleh ber-bagai kalangan di Papua, bukan level tataran yuridis dan teknik (pasal dan ayat), tapi pada tingkat pelaksanaannya.

Otsus jangan hanya menjadi pemanis dari pidato para pejabat dan membanjirnya dana ke Papua yang mencapai belasan triliunan rupiah, tapi bagaimana kedalaman pelaksanaannya. Jika hal itu terwujud maka kasus si Jimmi dapat ditampik. Tapi, jika sebaliknya realitas itu tidak dapat diminimalisasi maka jelas macam mana kita ini, yang sadar atau tidak, justru sedang menggiring hilangnya eksistensi dan peradaban orang Papua. Fenomena itu telah tampak dalam kasus pembakaran dan perusakan Gedung Rektorat Uncen, simbol dari peradaban dan kemajuan pendidikan tinggi bagi orang Papua, pada dini hari 9 April 2009 menjelang pelaksanaan pemilu legislatif, hingga kasus si Jimmi, yang tak bisa sekolah, karena tidak ada biaya.

Penulis adalah anggota Pokja Papua di Jakarta

Read More - Otsus Papua, Macam Mana?

Bergerak Maju Merahi Masa Depan

  © Music RASTA code by ourblogtemplates.com n edited byhaqieART @2009

Back to TOP