Mama Papua di Perkosa
Tolak Pilpres DiPapua Barat!
Sudah kesekian kali, bahkan beribu-ribu kali rakyat Papua Barat Diperkosa karena memang ancaman penganiayaan terhadap sebuah kebenaran yang sedang di perjuangkan. selalu dianggap kotor bahakan mendapat perlawanan yang cuku ketet dari negera. kasus yang kini menimpa Ibu RT merupakan yang harus diperangi, dengan mengutuk dan memberikan perlawanan bagi (AS, Freepot) dan MENOLAK DENGAN TEGAS PILPRES!!!. kondisi itu bukan saja di lakukan antar internal rakyat Papua Barat saja (antar suku), melainkan persolan pihak ketiga yang turut melibatkan rakyat untuk saling merebus diri, (adu domba) inilah sepakterjang negara antek imperialis (NKRI), di Papua Barat.
Apalagi sejau mana telah (kita) rakyat Papua Barat sudah mempunyai firasat yang cukup matang soal kedatangan bangsa-bangsa Inperialis terutam mereka bangsa-bangsa asing yang notabenenya watak dan karakternya telah terbentuk menjadi manusia-manusia kapitalistik yang menolak kesetaraan sosial di seluruh belahaan dunia, merupakan ancaman serius bagi rakyat kita di tanah air, lantas kondisi sosial diatas juga yang kini sedang menghimpit ekonomi bagi kebutuhan rakyat setempat cukup memberikan bukti-bukti nyata tentang ketidak adilan.
Jika kita telusuri perkembangan terakhir di Papua Barat, memang kondisi akhir-akhir ini menyangkut PILPRES besok, Kamis 08 Juli 2009 yang akan dilakukan secara serentak dibeberapa wilayah yang di klaim penguasa indonesia sebagai hak waris atas tanahnya memang cukup memberikan andil besar bagi pencabulan gerakan terhadap suasana domokrasi yang secara lantang-lantak masih di teriakan rakyat Papua Barat, yang ujung-ujungnya rakyatlah yang menebus dosa-dosanya (penguasa).
Hampir seluruh wilayah, mulai dari tingkatan Propinsi/kota, Kabuapaten, Kota/kecamatan/distrik sampai Rukun warga dan Rukun Tetangga telah di kepung kopral-kopral loreng dan coklat (TNI-POLRI), kini kondisi rakyat kita tinggal dalam himpitan setan-setan kapital yang yang cukup memberikan suasana dalam suasana Neraka. Sangat disayangkan adalah label Tuduhan/Stigma yang sering jadi hukum negara baik dalam kondisi mati
maupun setengah mati asalkan idiologi semunya dapat disandingkan kembali sebagai sarana pencabulan terhadap SDA di tanah air Papua Barat.
Mengikuti Pilpres besok bukan solusi bagi penuntasan akar persoalan di Papua Barat, malah semakin membawa penderitaan dan kesengsaraan absolud. jalan terakhir bagi pencapain sebuah kehidupan yang layak adalah kemerdekaan sepenuhnya( menjadi negara yang bebas dan mandiri dari intervensi/jajahaan bangsa asing. Menolak Pilpres berarti Menolak Penjajahan. (wendanak_,
Sudah kesekian kali, bahkan beribu-ribu kali rakyat Papua Barat Diperkosa karena memang ancaman penganiayaan terhadap sebuah kebenaran yang sedang di perjuangkan. selalu dianggap kotor bahakan mendapat perlawanan yang cuku ketet dari negera. kasus yang kini menimpa Ibu RT merupakan yang harus diperangi, dengan mengutuk dan memberikan perlawanan bagi (AS, Freepot) dan MENOLAK DENGAN TEGAS PILPRES!!!. kondisi itu bukan saja di lakukan antar internal rakyat Papua Barat saja (antar suku), melainkan persolan pihak ketiga yang turut melibatkan rakyat untuk saling merebus diri, (adu domba) inilah sepakterjang negara antek imperialis (NKRI), di Papua Barat.
Apalagi sejau mana telah (kita) rakyat Papua Barat sudah mempunyai firasat yang cukup matang soal kedatangan bangsa-bangsa Inperialis terutam mereka bangsa-bangsa asing yang notabenenya watak dan karakternya telah terbentuk menjadi manusia-manusia kapitalistik yang menolak kesetaraan sosial di seluruh belahaan dunia, merupakan ancaman serius bagi rakyat kita di tanah air, lantas kondisi sosial diatas juga yang kini sedang menghimpit ekonomi bagi kebutuhan rakyat setempat cukup memberikan bukti-bukti nyata tentang ketidak adilan.
Jika kita telusuri perkembangan terakhir di Papua Barat, memang kondisi akhir-akhir ini menyangkut PILPRES besok, Kamis 08 Juli 2009 yang akan dilakukan secara serentak dibeberapa wilayah yang di klaim penguasa indonesia sebagai hak waris atas tanahnya memang cukup memberikan andil besar bagi pencabulan gerakan terhadap suasana domokrasi yang secara lantang-lantak masih di teriakan rakyat Papua Barat, yang ujung-ujungnya rakyatlah yang menebus dosa-dosanya (penguasa).
Hampir seluruh wilayah, mulai dari tingkatan Propinsi/kota, Kabuapaten, Kota/kecamatan/distrik sampai Rukun warga dan Rukun Tetangga telah di kepung kopral-kopral loreng dan coklat (TNI-POLRI), kini kondisi rakyat kita tinggal dalam himpitan setan-setan kapital yang yang cukup memberikan suasana dalam suasana Neraka. Sangat disayangkan adalah label Tuduhan/Stigma yang sering jadi hukum negara baik dalam kondisi mati
maupun setengah mati asalkan idiologi semunya dapat disandingkan kembali sebagai sarana pencabulan terhadap SDA di tanah air Papua Barat.
Mengikuti Pilpres besok bukan solusi bagi penuntasan akar persoalan di Papua Barat, malah semakin membawa penderitaan dan kesengsaraan absolud. jalan terakhir bagi pencapain sebuah kehidupan yang layak adalah kemerdekaan sepenuhnya( menjadi negara yang bebas dan mandiri dari intervensi/jajahaan bangsa asing. Menolak Pilpres berarti Menolak Penjajahan. (wendanak_,


0 komentar:
Posting Komentar