Cari Blog Ini

Kamis, 24 Desember 2009

Natal berbuah Malapetaka Mengenang Kepergian Para Pejuang Tanah Air Bangsa Papua Barat.

Sudah sekian lama kami hidup, kini talah 48 Tahun kami hidup disini, di lahirkan disini, besar dan berkembang disini, Hari ini kami disini, besok kami tetap disini. Kami di nasehati oleh Tuhan kami untuk tetap disini bekerja dan merawat semua yang telah di ciptahkan dan di limpahkan kepada kami. Kami di berikan kuasa atas Tanah, Hutan, gunung, Sungai dan laut. Kami sangat akrab dan bersahabat dengan mereka (alam dan burung-burung di udara, binatang-binatang di hutan dan ikan-ikan di laut). Kami punya banyak cerita dengan mereka, kami punya banyak jenaka indah dengan mereka, sering kami bercanda gurau dengan mereka, kami punya banyak kisah yang indah dengan mereka, mereka adalah sahabat terpenting bagi kami sama pula dengan kami.

Suatu-waktu kami telah membuat satu kesepakatan yang baik, kesepakatan ini selalu kami jaga dan jalankan tanpa ada unsur paksaan, intimidasi, kekerasan. Karena kami telah meyakini satu kesepakatan itu akan membawa dampak yang baik bagi kami, bagi anak-anak kami kelak, bagi bangsa dan negara kami. satu kesepakatan itu adalah, Menjaga, merawat, saling tolong menolong di antara kami. Itulah peradaban kami, itulah kesadaran budaya kami, itulah keyakinan kami yang telah terpatri sejak bangas nenek moyang kami dahulu kala. Kami merasakan dunia kami, dunia yang tidak dimiliki bangsa-bangsa lain di dunia.

Tetapi kini semuanya telah berubah, berubah karena perubahan, perubahan itu kami tidak tahu, dari mana arah perubahn itu datang, kami mencari arah perubahan itu tetapi kami tak menemukan apa-apa, apa lagi bentuk dan sifatnya. Kini perubahan itu telah melahirkan dendam, dendam itu telah menempati dalam ruang hati kami, entah kapan semua ini akan berahir, satu persatu sahabat-sahabat kami telah pergi, entah pergi kemana, kami tak tahu mereka pergi. Bangun pagi kami tak dengar lagi kicau burung-burung, berburuh di hutan tak lagi kami temukan sepagang daging binatang sahabat kami, berlayar di laut tak lagi kami temukan karang. Semua telah pergi, entah kemana hilang di telan bumi.

Kini tinggal kami sendiri, ya…tinggal kami sendiri. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi canda gurau, yang ada hanyalah diri kami, diri kami yang berkelana dalam tangisan dan jeritan air mata darah, air mata darah yang tak berkesudahan, air mata darah yang tak ada henti-hentinya, air mata darah yang tak ada awal dan akhir, air mata itu telah membasahi tanah kami, hutan kami, gunung kami, sungai dan laut kami, kapan semuanya ini berakhir, kami berlutut di tanah teriak Tuhan, kami naik ke gunung teriak Tuhan, kami ke hutan teriak Tuhan, kami ke sungai teriak Tuhan, kami ke laut teriak Tuhan….teriak…teriak…teriak…Tuuuuuuuuuhhhhhhaaaaaannnnn ? tetapi semua diam.

Hari ini menjelang hari natal, menjelang masa-masa natal yang kian cemerlang di hati dan pikiran semua orang yang ingin merayakannya, kamipun merasakan demikian, ingin melakukan seperti yang mereka lakukan, itul keinginan kami, kami ingin membeli beras, minyak goreng, sabun, fetsin, garam, superemin, pakean, dll untuk natal kami di kampung, kami ingin pulang dan merayakan natal dengan keluarga, sanak saudara, kerabat dekat dan anak-anak sekolah minggu di kampung halaman kami, kamipun rindu merekapun rindu, tapi….? Bagaimana pikiran dan ide kami ini bisa tersalurkan ?

Kami hari ini sungguh sangat berduka, hati kami piluh, air mata darah kami tak dapat kami bendung atas kematian bapak kami yang siang tadi ditembak mati, ibu kami di bawa pergi dan di perkosa dengan keji, kakak kami tubunya di cincang, adik kami di lempar ke sungai, saudara-saudara kami di bakar hidup-hidup, kami ketakutan, jantung kami terus berdetak-detuk, kami tak dapat bernafas dengan tenang, tanah-tanah kami di kuasai, ladang dan kebung kami di jarah habis, ternak-ternak babi kami di rampas, kami ketakutan, otak dan pikiran kami mencekram, kami tak dapat berbuat apa-apa, kami tak dapat membalas apa-apa, kami tidak mempunyai sesuatu apapun yang dapat kami bertahan, hidup dan nyawa kami terus terbayang-bayang di liang kubur menggelepar dalam setiap detik dari waktu ke waktu, kapankah semuanya ini bisa berakhir.

Di hari yang berbahagia ini, kami tak dapat mempunyai sesuatu yang dapat kami berikan bagi sang Kahlik langit dan bumi, sebab seluruh jiwa raga kami telah menjadi mangsa para serdadu liar, hari ini kami kelaparan, hari ini kami kehausan, hari ini kami menjerit kesakitan, kesakitan untuk bagi kesakitan yang lain, kami tak mau nodai hari berbahagia ini dengan penderitaan yang kami rasakan, tetapi apalah daya semuanya berjalan begitu cepat tanpa ada belas kasihan di hati para serdadu-serdadu itu.

Kami berlutut di tanah teriak Tuhan, kami naik ke gunung teriak Tuhan, kami ke hutan teriak Tuhan, kami ke sungai teriak Tuhan, kami ke laut teriak Tuhan….teriak…teriak…teriak…Tuuuuuuuuuhhhhhhaaaaaannnnn ? tetapi semua diam.

Jakarta, 24 Desember 2009

Lampuh Merah, Jalan Bebas Hambatan!

VKogoya



Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar


Bergerak Maju Merahi Masa Depan

  © Music RASTA code by ourblogtemplates.com n edited byhaqieART @2009

Back to TOP